• Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Jumat, Juli 10, 2026
  • Login
  • Register
Kawan Islam
Advertisement
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login
No Result
View All Result
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login
No Result
View All Result
Kawan Islam
No Result
View All Result

Kecerdasan Spiritual Nabi SAW (3)

M. Zahri Johan by M. Zahri Johan
Juni 4, 2020
in Akhlak, Pengetahuan Islam
Kecerdasan Spiritual Nabi SAW (3)

Tulisan Lain(Dibaca Kawanmu)

Ketika Pernikahan Tak Lagi Bisa Dipertahankan: Memahami Khulu’ dalam Islam

Apakah Agama Hanya Ilusi? Membaca Kritik Sigmund Freud Terhadap Iman

Tajul Arus: Bahaya Maksiat

  • 1share
  • 0
  • 0
  • 1
  1. Kemurahan Hati yang Tulus

Kemurahan hati muncul dari rasa syukur yang berkelimpahan dalam spirit seseorang. Ukuran dari sifat pemurah yaitu pada ketanpapamrihan untuk memberikan sesuatu, baik material maupun immaterial kepada orang lain yang membutuhkan, serta pada nilai pengorbanan yang ada dalam pemberian tersebut.

Nabi Muhammad adalah seorang yang kaya baik sebelum atau sesudah menjadi Nabi. Sebelum menjadi Nabi kekayaannya diperoleh melalui perniagaan. Di usia 25 tahun pada saat melamar Khadijah, mas kawinnya 20 onta betina dan 1,25 kg emas dll (hampir senilai 1 M). Setelah menjadi Nabi kekayaannya terbagi menjadi tiga macam: Dalam bentuk fa’I (harta yang diperoleh tanpa melalui pertempuran), Ash Shafi (harta yang dipilih oleh Rosul sebagai ghonimah sebelum dibagikan), As Sahm (bagian diluar seperlima yang merupakan hak Rosul). Melalui kekayaannya tersebut Nabi mendermakan seluruhnya (100 % ) untuk orang-orang yang membutuhkan.

Ketika beliau kembali dari perang Hunain, beliau disodori uang dari hasil rampasan perang dengan jumlah yang sangat banyak. Beliau berkata, “Letakkan uang itu di masjid”, kemudian beliau sholat di masjid itu tanpa menoleh kepada uang tadi. Ketika beliau selesai sholat beliau duduk dekat uang itu dan memberikannya kepada setiap orang yang meminta. Kemudian beliau baru berdiri setelah uang itu habis. Shofwan bin Umayyah berkata,“Sungguh Rasululloh SAW telah memberiku pada hari peristiwa Hunain ini padahal dia adalah orang yang paling kubenci, dan dia terus memberiku hingga dia menjadi manusia yang paling kucintai”. Shofwan kemudian masuk Islam saat Rasulullah kembali dari perang Hunain.

Kemurahan hati Nabi juga pada hal-hal yang bersifat immaterial, Seperti keramahan beliau kepada setiap orang. Suatu ketika Jarir bin Abdullah Al Bajli datang berkunjung ke rumah Nabi, Nabi segera menyambutnya dengan penuh keramahan serta menggelar sorban yang dipakainya ke lantai dan mempersilahkan tamunya untuk duduk di atas sorban tersebut. Senyuman juga selalu mengembang dari wajah beliau. Senyum adalah bagian dari kemurahan hati, seperti sabda beliau:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

‎“Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi).‎

Pada saat akhir hidupnya, Nabi berpesan kepada Aisyah agar segera menyedekahkan beberapa dinar emas yang disimpan pada istrinya itu. Sesaat kemudian beliau pingsan karena sakit keras yang dideritanya. ketika sadar beliau kembali menanyakan tentang dirhamnya apakah telah disedekahkan. Karena terlalu sibuk mengurus Nabi, Aisyah terlupa pada pesan tersebut, lalu Nabi berpesan, “tidak pantas bagi seorang Nabi masih membawa harta ketika hendak menghadap Tuhannya”, segera simpanan dirham tersebut disedekahkan oleh Aisyah.

  1. Tidak Cepat Menyimpulkan

Statistik menunjukkan bahwa diantara berbagai masalah, yang benar-benar merupakan masalah hanya 7 %, sisanya yang 93 % adalah masalah yang diciptakan oleh kecerdasan manusia itu sendiri. Kemampuan seseorang dalam mengendalikan pikiran untuk tidak segera stress dan bersedih karena sesuatu yang tidak sesuai dengan penilaian/harapan, menunjukkan tingginya kecerdasan spiritual dalam diri orang tersebut.

Nabi Muhammad selalu mengajarkan umatnya untuk selalu berpikir positif dalam menghadapi berbagai masalah. Beliau bersabda, didalam hadits Qudsi,

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih)

”Aku ada Pada Prasangka HambaKu KepadaKu…”. Oleh karena itu jika menghadapi masalah janganlah mengatakan: “yaa Allah masalah saya besar”, tapi katakanlah: “Hei masalah! Allah Maha Besar…”.

Orang yang pikirannya didominasi oleh hal-hal yang negatif akan menyebabkan tumbuhnya sifat mudah meluapkan amarah dan suka menghakimi orang lain. Sebaliknya Nabi Muhammad SAW memberi teladan dari perilakunya yang tidak mudah marah. Ketika pasukan panah muslim meninggalkan pos-pos mereka pada waktu perang uhud, menyebabkan kondisi pertempuran berbalik dari kemenangan menjadi kekalahan di pihak muslim. Nabi Muhammad sebenarnya berhak untuk marah tetapi beliau tidak melampiaskan kemarahannya itu. Demikian juga ketika pasukan muslim dalam jumlah besar (12.000 pasukan) lari kocar kacir pada perang di lembah Hunain. Terhadap dua peristiwa ini dan peristiwa yang serupa, Nabi tetap menghadapinya dengan tenang. Ketenangan Nabi ini justru menginspirasi pasukannya untuk kembali bersatu dan berhasil memukul mundur musuh. Nabi bersabda, “Bukanlah orang yang kuat itu orang yang cepat serangannya, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” (HR.Bukhori)

  1. Pencarian Makna

Adanya misi dalam hidup menunjukkan kecerdasan spiritual. Misi memberikan komitmen dan kesungguhan, juga memberikan makna pada kehidupan. Pengalaman masa kecil Muhammad yang diasuh oleh Halimatus Sa’diyah di gurun sahara, serta pada saat menggembalakan kambing, memberikan kesempatan kepada beliau untuk merenungkan tentang alam dan kehidupan semenjak usia remaja. Kebiasaan beliau merenung dan berfikir ini menanamkan “misi hidup” pada diri Muhammad.

Pada saat usia 30 tahun, yaitu pada saat beliau telah mencapai posisi financial freedom(menurut istilah Robert Kiyosaki), Muhammad bersama istrinya, khadijah, telah berhasil menjadi investor yang sukses dengan kekayaan berlimpah di Makkah. Bagi pemuda-pemuda lainnya yang seusia dengan Muhammad, setelah meraih kemapanan ekonomi mereka menenggelamkan dirinya dalam perebutan untuk mencari pengaruh di masyarakat dan ke dalam praktik kehidupan jahiliah. Sebaliknya, Muhammad justru sering meninggalkan keramaian (uzlah) dengan bertahanuts/kontemplasi di gua Hira. Setelah usia beliau menginjak 37 tahun kegiatan bertahanuts ini menjadi semakin sering, dan pada usia kematangan beliau (40 tahun) beliau mendapat visi pencerahan, yakni melalui turunnya wahyu dari Allah SWT.

  • 1share
  • 0
  • 0
  • 1
Tags: Kecerdasan Spiritualsiroh
Previous Post

Kecerdasan Emosional Nabi SAW (2)

Next Post

AL GAZEL

M. Zahri Johan

M. Zahri Johan

M. Zahri Johan #Aktivitas a. Ketua Ponpes Progresif Fathimah al-Amin b. Guru MAN 2 Kota Semarang c. Pengasuh kawanislam.com # Motto Karakter adalah dasar prestasi

Related Posts

Ketika Pernikahan Tak Lagi Bisa Dipertahankan: Memahami Khulu’ dalam Islam
Artikel

Ketika Pernikahan Tak Lagi Bisa Dipertahankan: Memahami Khulu’ dalam Islam

Juni 9, 2026
Apakah Agama Hanya Ilusi? Membaca Kritik Sigmund Freud Terhadap Iman
Islam dan Sains

Apakah Agama Hanya Ilusi? Membaca Kritik Sigmund Freud Terhadap Iman

Maret 17, 2026
Tajul Arus: Terhalang dari Munajat
Akhlak

Tajul Arus: Bahaya Maksiat

Desember 18, 2025
Tajul Arus: Terhalang dari Munajat
Akhlak

Tajul Arus: Bekas Maksiat

Desember 18, 2025
Tajul Arus: Terhalang dari Munajat
Akhlak

Tajul Arus: Mudharat Maksiat

Desember 18, 2025
Please login to join discussion

Recommended

Eksistensi Santri Progresif di Era Digital dalam Menjaga Ghirah Dakwah

Eksistensi Santri Progresif di Era Digital dalam Menjaga Ghirah Dakwah

Desember 4, 2025
Apakah Agama Hanya Ilusi? Membaca Kritik Sigmund Freud Terhadap Iman

Apakah Agama Hanya Ilusi? Membaca Kritik Sigmund Freud Terhadap Iman

Maret 17, 2026

Don't miss it

BELAJAR DARI NABI AYUB, AS
Akhlak

BELAJAR DARI NABI AYUB, AS

Juni 3, 2020
Pondok Pesantren Progresif Fathimah Al-Amin Menggelar Kegiatan Training Motivation Mengenai Inspirasi Hidup yang Berkah dan Bermanfaat
Berita

Pondok Pesantren Progresif Fathimah Al-Amin Menggelar Kegiatan Training Motivation Mengenai Inspirasi Hidup yang Berkah dan Bermanfaat

Oktober 10, 2025
Hikmah & Muhasabah

MERINDUKAN PEMIMPIN YANG BERANI DAN BERNURANI

November 27, 2018
Dari Gerakan Menuju Kekhusyukan: 50 Peserta Ikuti Pelatihan Sholat Khusyuk Sesi Kedua di Fathimah Al-Amin
Acara

Dari Gerakan Menuju Kekhusyukan: 50 Peserta Ikuti Pelatihan Sholat Khusyuk Sesi Kedua di Fathimah Al-Amin

Maret 17, 2026
Memetik Buah Hikmah dari Pohon di Badar
Hikmah & Muhasabah

Memetik Buah Hikmah dari Pohon di Badar

Desember 12, 2023
Sang Pecinta
Akhlak

Sang Pecinta

Juni 3, 2020

KawanIslam.com merupakan media remaja Islam Indonesia untuk..

Categories

  • Acara
  • Agama
  • Akhlak
  • Artikel
  • Berita
  • Cerpen
  • Forum Rohis
  • Hikmah & Muhasabah
  • Hukum
  • Islam dan Sains
  • Kirim ke kawanislam
  • Kiriman Pembaca
  • Kisah Inspiratif
  • Kolom Guru & Orang Tua
  • Konsultasi
  • Pengetahuan Islam
  • Psikologi
  • Qur'an & Hadits
  • Sejarah dan Budaya
  • Video
  • World

Browse by Tag

akhlak Amin Syukur cerpen cinta rasul Dakwah era digital demokrasi forum guru forum orang tua Haji hikmah hukum Ibnu Athaillah Indonesia Islam islam dan sains islam nusantara karakter anak kebahagiaan Literasi Man 2 Semarang maulid nabi Maulud muhasabah nafs NKRI NU pendidikan karakter renungan Rohis sains santriprogresif Sejarah sejarah islam sholat khusyu' sirah Nabawi solusi spiritualitas beragama sufi tafsir tafsir kontekstual Tajul Arus tasawuf tokoh sufi Toleransi Umrah

Recent News

Ketika Pernikahan Tak Lagi Bisa Dipertahankan: Memahami Khulu’ dalam Islam

Ketika Pernikahan Tak Lagi Bisa Dipertahankan: Memahami Khulu’ dalam Islam

Juni 9, 2026
Ketika Dosa Menjadi Kabut Iman: Pelajaran Berharga dari Kitab Tajul Arus

Ketika Dosa Menjadi Kabut Iman: Pelajaran Berharga dari Kitab Tajul Arus

Juni 8, 2026

© 2018 KawanIslam - Web Developer KawanIslam.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Kecerdasan Emosional Nabi SAW (2)

Kecerdasan Spiritual Nabi SAW (3)

 
AL GAZEL
No Result
View All Result
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login

© 2018 KawanIslam - Web Developer KawanIslam.

 
Send this to a friend