• Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Rabu, September 9, 2026
  • Login
  • Register
Kawan Islam
Advertisement
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login
No Result
View All Result
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login
No Result
View All Result
Kawan Islam
No Result
View All Result

Ekonomi ‘Syariah’ atau Kerakyatan ?

M. Zahri Johan by M. Zahri Johan
Juni 3, 2020
in Artikel, Hukum
Ekonomi ‘Syariah’ atau Kerakyatan ?

Tulisan Lain(Dibaca Kawanmu)

Ketika Pernikahan Tak Lagi Bisa Dipertahankan: Memahami Khulu’ dalam Islam

Ketika Dosa Menjadi Kabut Iman: Pelajaran Berharga dari Kitab Tajul Arus

Eksistensi Santri Progresif di Era Digital dalam Menjaga Ghirah Dakwah

  • 0shares
  • 0
  • 0
  • 0

Tahun 1970 hingga 1980-an sejumlah ekonom berpendapat sebuah ekonomi dapat dinamakan ekonomi Islam jika mengikuti ketentuan syariah mengenai riba, penolakan bunga bank, asuransi dan persaingan bebas (laisses faire). Kajian ini menarik karena: 1) Bermunculan program yang berlabel syariah seperti Bank Syariah, Asuransi Takaful dll. 2). Ekonomi kita berjalan tanpa menggunakan acuan moral sama sekali (asas kapitalistik). Lantas muncul pertanyaan, apakah sistem yang hanya bertumpu pada acuan moral saja dapat disebut sistem ekonomi? Efisiensi yang dibawakan oleh kapitalisme, yang menjadi inti dari praktik ekonomi yang sehat, apakah bertentangan dengan ajaran Islam?.

Perkembangan gagasan Ekonomi Islam selama ini menunjukkan kemandulan karena lebih cenderung untuk mempermasalahkan aspek-aspek normatif, seperti bunga bank dan asuransi. Lebih berfokus pada pencarian nilai-nilai daripada pencarian cara/aplikasi yang bisa dilakukan oleh nilai-nilai tersebut.

Bank Syariah sebagai eksperimen penerapan Ekonomi Islam masih jauh dari harapan ideal yang dicita-citakan. Bank Syariah seharusnya berbasis perdagangan yang sah dan bebas riba, Kenyataan perbankan di negeri kita, baik yang berlabel syariah atau tidak, hanyalah berperan sebagai badan intermediasi. Artinya, bank hanya berperan dalam pembiayaan, dan bukan membeli barang, untuk kemudian dijual kembali. Karena secara regulasi dan faktanya, bank tidak dibenarkan untuk melakukan praktik perniagaan praktis.

Bank Syariah sebagai penyedia dana sesuai aturan harus menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah (Pembiayaan untuk pelaku usaha/punya keahlian tapi tidak punya modal). Pengelola dana (nasabah) bebas dari kerugian apapun, kecuali apabila ada: kesalahan disengaja, kelalaian, atau pelanggaran kesepakatan. Kenyataan di lapangan nasabah yang mendapatkan pembiayaan modal dari perbankan syariah, masih diwajibkan mengembalikan modal secara utuh, walaupun ia mengalami kerugian usaha.

Praktek di lapangan jarang ditemui akad mudharabah murni, tapi modifikasi mudharabah dan musyarakah (serikat usaha). Hal ini terjadi karena Bank Syariah hanya mau memberikan pembiayaan kepada usaha yang telah berjalan selama kurun waktu tertentu. Pembagian return pembiayaan tidak berdasarkan sistem bagi hasil dan rugi (profit and loss sharing) tetapi menggunakan sistem bagi pendapatan (revenue sharing). Sistem ini dipilih karena Bank Syariah belum sepenuhnya berani berbagi risiko atau kerugian modal secara penuh. Keuntungan yang harus diberikan kepada nasabah ternyata telah dikira-kira (ditetapkan di muka) oleh Bank Syariah.

“Modifikasi akad” seperti ini tidak bisa dielakkan dari praktik perbankan syariah di Indonesia untuk mengakomodir kehendak sistem perekonomian kapitalis yang menaungi mereka, yang tentu saja menghendaki resiko ditekan sekecil mungkin. Menurut data OJK (2016), akad murabahah yang berisiko rendah dan bersifat konsumtif merupakan akad pembiayaan paling laris (61 %). Sedangkan akad investasi berisiko tinggi dan bersifat produktif berada jauh dibawahnya : musyarakah (31,7 %) dan mudharabah (7,29 %). Ini di luar harapan dari tujuan syariah, yaitu pembiayaan dalam rangka menunjang usaha produktif bukan konsumtif.

Problemnya ditambah lagi dengan skala bank syariah yang kecil membuat mereka kurang efisien. BOPO (Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional) lebih tinggi dari konvensional, produktivitas kalah, sehingga akhirnya kalah bersaing dengan bank konvensional. Kondisi inilah yang dikritik oleh Staf Khusus Menteri BUMN, Budi Gunadi, “Dengan sedih harus saya bilang, Ini bank konvensional KW-2..!”.

Abdullah Saeed (pakar Hukum Islam), juga menyoroti penerapan sistem profit and loss sharing (PLS). Sistem PLS ini, yang ada dalam akad mudharabah dan musyarakah, digadang-gadang menjadi pembeda antara Bank Islam dengan Bank Konvensional yang hanya menerapkan sistem profit sharing saja, tanpa loss sharing. Sitem PLS ini jika bisa diterapkan akan  memperlakukan nasabah dengan lebih adil. Jika prinsip yang digunakan ternyata tidak jauh berbeda dengan bank konvensional, maka upaya pengembangan bank syariah bisa jadi termasuk tahsilul hasil (melakukan hal yang tidak perlu). Sehingga lembaga yang hampir bangkrut seperti Bank Muamalah seyogyanya tidak perlu dipertahankan mati-matian.

Ekonomi Kerakyatan

Dalam ekonomi modern ini kita melihat pelaksanaan prinsip islam (fastabiqul khoirot), yang bisa melahirkan efisiensi. Tetapi orientasi ekonomi kapitalistik mengutamakan individu pengusaha besar dan pemilik modal. Berbeda dengan ekonomi islam yang berorientasi pada kepentingan rakyat dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Kita tidak perlu terlalu antipati dengan ekonomi kapitalis. Amerika, biangnya kapitalis saja bisa melakukan modifikasi untuk kepentingan rakyatnya. Presiden Jackson memutuskan mengangkat gubernur bank sentral, agar dapat melakukan pengelolaan dan menggunakannya untuk kepentingan rakyat. Padahal teori kapitalisme klasik menyatakan pemerintah tidak boleh ikut campur dalam urusan ekonomi nasional. Kebijakan Jackson ini melahirkan Kapitalisme Rakyat (folks Capitalism). Tesa kapitalis melawan antitesa sosialis bisa melahirkan sintesa ekonomi rakyat.

UUD 45 menetapkan tujuan negara yaitu dalam rangka terciptanya masyarakat yang adil dan makmur. Dalam qaidah fiqih disebutkan : thasarruf al imam ala ar raiyyah manuthun bi al maslahah (Kebijakan dan tindakan pemimpin atas rakyat yang dipimpin harus sejalan dengan kemaslahatan mereka). Sehingga dalam ekonomi berlaku prinsip ekonomi yang berorientasi pada kemampuan berdiri di atas kaki sendiri. Prinsip ekonomi kerakyatan ini sesuai dengan ajaran islam. Terkait nama tidak begitu penting, substansinya yaitu bisa membawa kesejahteraan ekonomi secara mikro (kebahagiaan dunia-akhirat) dan makro (keadilan dan kemakmuran seluruh bangsa)

Inti dari Ekonomi Islam yaitu melindungi yang lemah dan membatasi yang kuat. Kenyataannya yang berlaku: tatanan ekonomi dan finansial kita hampir seluruhnya cenderung menolong sektor yang kuat dan mengabaikan sektor yang dianggap ekonomi lemah. Ada tiga hal yang penting dalam ekonomi berbasis kerakyatan: 1) orientasi ekonomi yang memperjuangkan nasib rakyat kecil serta kepentingan orang banyak; 2). Mekanisme yang digunakan untuk mencapai kesejahteraan itu, tidak ditentukan format dan bentuknya. 3) Pemerintah sebagai penguasa harus memberikan perlindungan kepada yang lemah tanpa melakukan intervensi dalam perdagangan.

Kebijakan ekonomi kerakyatan bisa ditempuh dengan mengembangkan ekonomi rakyat dalam bentuk memperluas dengan cepat inisiatif mendirikan dan mengembangkan usaha kecil dan menengah (UKM), dalam bentuk kemudahan-kemudahan, fasilitas-fasilitas dan sistem kredit sangat murah bagi perkembangan UKM. Dibarengi dengan peningkatan pendapatan ASN dan militer untuk meningkatkan kemampuan daya beli (purchasing power) mereka. Pemerintah perlu langsung memimpin tindakan ini sambil membiarkan perusahaan besar untuk tetap mandiri, dan tetap berpegang pada persaingan bebas, efisiensi dan permodalan swasta dalam dan luar negeri.

Ketika menjadi ketua PBNU Gusdur berusaha merealisasikan ekonomi kerakyatan dengan menggarap proyek ekonomi UKM, seperti uasaha pengalengan nanas, pabrik tapioka, budidaya ikan air tawar dll. Dirintis juga kerjasama antara NU dan Bank SUMMA dengan mendirikan kantor cabang bank NU-SUMMA di seluruh Indonesia, meski pada perjalanannya gagal karena dihambat oleh rejim ORBA. Ketika menjadi presiden, Gusdur juga menaikkan gaji PNS secara signifikan. Ini salah satu contoh misi penerapan ekonomi kerakyatan di lapangan, yang bisa dilanjutkan.

Daripada membuat trik/manipulasi untuk mensiasati syariat demi menjaga tafsir riba tetap hidup di konteks modern, lebih baik umat Islam meninjau kembali aspek moral yang ada dalam syariat larangan riba di zaman pra Islam, mempertimbangkan kembali data-data historis dan kontekstual yang ada, dalam rangka membangun penafsiran yang relevan secara kontekstual yang bisa didukung dan diikuti. Perbankan konvensional yang berbasis kapitalis diupayakan agar berorientasi kerakyatan melalui dukungan penuhnya untuk pengembangan UKM.

  • 0shares
  • 0
  • 0
  • 0
Tags: ekonomi syariah
Previous Post

Kajian Kontekstual Riba

Next Post

Manusia dan Agama

M. Zahri Johan

M. Zahri Johan

M. Zahri Johan #Aktivitas a. Ketua Ponpes Progresif Fathimah al-Amin b. Guru MAN 2 Kota Semarang c. Pengasuh kawanislam.com # Motto Karakter adalah dasar prestasi

Related Posts

Ketika Pernikahan Tak Lagi Bisa Dipertahankan: Memahami Khulu’ dalam Islam
Artikel

Ketika Pernikahan Tak Lagi Bisa Dipertahankan: Memahami Khulu’ dalam Islam

Juni 9, 2026
Ketika Dosa Menjadi Kabut Iman: Pelajaran Berharga dari Kitab Tajul Arus
Artikel

Ketika Dosa Menjadi Kabut Iman: Pelajaran Berharga dari Kitab Tajul Arus

Juni 8, 2026
Eksistensi Santri Progresif di Era Digital dalam Menjaga Ghirah Dakwah
Akhlak

Eksistensi Santri Progresif di Era Digital dalam Menjaga Ghirah Dakwah

Desember 4, 2025
Mahasantri: Pengawal Kemerdekaan Menuju Peradaban Dunia
Akhlak

Mahasantri: Pengawal Kemerdekaan Menuju Peradaban Dunia

Desember 4, 2025
Dari Pesantren Menuju Peradaban Dunia: Kiprah Santri dalam Merawat Indonesia dan Menebar Inspirasi Global
Akhlak

Dari Pesantren Menuju Peradaban Dunia: Kiprah Santri dalam Merawat Indonesia dan Menebar Inspirasi Global

Desember 4, 2025
Please login to join discussion

Recommended

KUOTA PEREMPUAN DI DALAM PARLEMEN

KUOTA PEREMPUAN DI DALAM PARLEMEN

Agustus 27, 2023
Kecerdasan Nabi SAW (1)

Kecerdasan Nabi SAW (1)

Juni 4, 2020

Don't miss it

SYI’AH
Pengetahuan Islam

Syi’ah Juga Muslim

Juni 4, 2020
Jaminan Surga di Balik Sebuah Titipan: Mengupas Keutamaan Akad Wadī’ah
Qur'an & Hadits

Jaminan Surga di Balik Sebuah Titipan: Mengupas Keutamaan Akad Wadī’ah

Desember 17, 2025
Hidrogen dan Helium, Unsur Pertama pada Penciptaan Alam Semesta
Islam dan Sains

Hidrogen dan Helium, Unsur Pertama pada Penciptaan Alam Semesta

Juni 4, 2020
Pionir Hukum Kekekalan Massa Oleh Ilmuwan  Islam
Islam dan Sains

Pionir Hukum Kekekalan Massa Oleh Ilmuwan Islam

Juni 4, 2020
Mencampur Beberapa Madzhab (Talfiq)
Agama

Imam yang tidak Fashih

Juni 2, 2020
Ekonomi ‘Syariah’ atau Kerakyatan ?
Artikel

Ekonomi ‘Syariah’ atau Kerakyatan ?

Juni 3, 2020

KawanIslam.com merupakan media remaja Islam Indonesia untuk..

Categories

  • Acara
  • Agama
  • Akhlak
  • Artikel
  • Berita
  • Cerpen
  • Forum Rohis
  • Hikmah & Muhasabah
  • Hukum
  • Islam dan Sains
  • Kirim ke kawanislam
  • Kiriman Pembaca
  • Kisah Inspiratif
  • Kolom Guru & Orang Tua
  • Konsultasi
  • Pengetahuan Islam
  • Psikologi
  • Qur'an & Hadits
  • Sejarah dan Budaya
  • Video
  • World

Browse by Tag

akhlak Amin Syukur cerpen cinta rasul Dakwah era digital demokrasi forum guru forum orang tua Haji hikmah hukum Ibnu Athaillah Indonesia Islam islam dan sains islam nusantara karakter anak kebahagiaan Literasi Man 2 Semarang maulid nabi Maulud muhasabah nafs NKRI NU pendidikan karakter renungan Rohis sains santriprogresif Sejarah sejarah islam sholat khusyu' sirah Nabawi solusi spiritualitas beragama sufi tafsir tafsir kontekstual Tajul Arus tasawuf tokoh sufi Toleransi Umrah

Recent News

Ketika Pernikahan Tak Lagi Bisa Dipertahankan: Memahami Khulu’ dalam Islam

Ketika Pernikahan Tak Lagi Bisa Dipertahankan: Memahami Khulu’ dalam Islam

Juni 9, 2026
Ketika Dosa Menjadi Kabut Iman: Pelajaran Berharga dari Kitab Tajul Arus

Ketika Dosa Menjadi Kabut Iman: Pelajaran Berharga dari Kitab Tajul Arus

Juni 8, 2026

© 2018 KawanIslam - Web Developer KawanIslam.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Kajian Kontekstual Riba

Ekonomi 'Syariah' atau Kerakyatan ?

 
Manusia dan Agama
No Result
View All Result
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login

© 2018 KawanIslam - Web Developer KawanIslam.

 
Send this to a friend