• Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Jumat, Juli 10, 2026
  • Login
  • Register
Kawan Islam
Advertisement
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login
No Result
View All Result
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login
No Result
View All Result
Kawan Islam
No Result
View All Result

Mengenal Islam Nusantara

Ahmad Rouf by Ahmad Rouf
Juni 4, 2020
in Pengetahuan Islam, Sejarah dan Budaya
Mengenal Islam Nusantara

Tulisan Lain(Dibaca Kawanmu)

Ketika Pernikahan Tak Lagi Bisa Dipertahankan: Memahami Khulu’ dalam Islam

Apakah Agama Hanya Ilusi? Membaca Kritik Sigmund Freud Terhadap Iman

Tajul Arus: Bahaya Maksiat

  • 1share
  • 0
  • 0
  • 1

Masyarakat Indonesia banyak yang salah mengartikan apa yang dimaksud dengan istilah “Islam Nusantara”. Mereka beramai-ramai membully term Islam Nusantara sebagai Islam aliran baru, bid’ah, dan sesat. “Siapa nabinya, apa kitabnya”, adalah pertanyaan-pertanyaan mereka yang menolak tema Muktamar NU pada tahun 2015 di Jombang Jawa Timur itu. Sedang bagi yang menerima istilah Islam Nusantara, mereka mengartikan sebagai Islam yang diamalkan masyarakat Nusantara.

NU sebagai pengusung istilah Islam Nusantarapun tak luput dari cibiran penolaknya. Lebih-lebih melalui media sosial. Pertanyaannya, seberapa ilmu pengetahuan agama kita dibanding dengan para ulama, habaib, kyai, professor, dan intelektual NU yang sudah dikenal pecinta ilmu? NU yang diistilahkan sebagai pesantren besar, dan pesantren adalah NU kecil merupakan lingkungan hidup umat Islam mainstream ini. NU beraqidah ahlussunah wal jamaah. Sudah pasti tidak gegabah membuat term Islam Nusantara sebagai media dakwah Islam yang tasamuh, tawassuth, tawazun, dan ta’adul. Islam yang bisa menebar kasih sayang bagi seluruh alam. Bukan Islam yang melahirkan kengerian (Islamophobia), juga bukan Islam yang mudah menuduh kafir, bid’ah, sesat kepada kelompok yang berbeda paradigm dengannya.

Islam Nusantara mudah kita temui sehari-hari di masyarakat Nusantara, khususnya masyarakat pulau Jawa. Corak ber-Islam yang santun, menyatu dengan kearifan lokal, memiliki nilai toleransi yang tinggi antar umat beragama dan antar sesame manusia (ukhuwah basyariyah). Bukan ajaran baru mengenai Islam yang berasal dari Indonesia. Untuk melihat lebih dalam tentang konsep Islam Nusantara, kita bisa membaca sejarah metode dakwah Walisongo, yang mampu menyebarkan Islam tanpa perang dan dapat di terima oleh masyarakat Nusantara khususnya penduduk Jawa. Bagaimana strategi dakwah Walisongo sehingga dapat dengan mudah di terima oleh masyarakat Nusantara?

Pada saat Walisongo mendakwahkan ajaran Islam kepada masyarakat Nusantara, sebagian masyarakat masih menganut agama Hindu dan Budha. Beberapa kerajaan memiliki petinggi yang agamanya Hindu dan Budha. Hal  ini berpengaruh kepada corak kebijakan dan budaya yang berkembang di Nusantara. Banyak temuan penelitian menyatakan bahwa para alim ulama yang tergabung dalam Walisongo, lebih banyak menggunakan instrumen budaya lokal untuk digunakan sebagai media dakwah Islam. Seperti dengan media wayang, gong gamelan, tembang macapat, dan lain sebagainya.

Wayang kulit yang sekarang masih bisa kita temui pada acara-acara hiburan di daerah Jawa merupakan media dakwah Walisongo yang ampuh untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Pada saat itu masyarakat sudah sangat akrab dengan budaya wayangan yang biasanya di selenggarakan pada saat upacara kelahiran, pernikahan atau upacara tolak balak, namun biasanya kegiatan wayang di tambah dengan sesaji. Karena itulah Walisongo memasukkan unsur Islam kedalamnya, sekarang muncul lakon dan cerita yang disesuaikan dengan agama Islam seperti layang kalimasodo yang mengajarkan syahadat, atau tokoh punakawan yang merupakan penasihat Pandawa dan membawa misi agama Islam. jika kita bandingkan dengan cerita Pandawa dari India, maka tidak akan kita jumpai tokoh punakawan.

Media lain untuk penyebaran Islam yaitu melalui galeman dan tembang. Musik gamelan dan tembang memang sangat lekat dengan kepercayaan jaman dulu, oleh Walisongo di sisipkan ajaran Islam di dalamnya. Tembang tombo ati dan lir ilir misalnya, kedua temang tersebut di ciptakan bertujuan sama yaitu mengajak manusia agar lebih bertakwa kepada Tuhan. Ada juga tembang-tembang Macapat, seperti maskumambang, sinom, kinanti, pangkur, dan lainnya.

Perayaan adat masyarakat Jawa pada saat itu juga sangat lekat dengan musik gamelan. Karena itulah Walisongo kemudian menyelenggarakan sekaten dan grebeg maulud yang diselenggarakan pada saat hari lahir Nabi Muhammad Saw. Dalam perayaan ini gamelan diperdengarkan agar mengundang penduduk sekitar untuk datang, kemudian dilanjutkan pemberian dakwah dan pemerian sedekah raja berupa gunungan makanan, maka masyarakat mulai tertarik untuk mempelajari Islam. Kemudian sesaji dan slametan di ubah niatnya, yang dulunya sesaji di buat untuk dewa sekarang dibuat untuk dijadikan sedekah kepada tetangga. Slametan di ubah niat dan doanya, bukan lagi berdoa kepada dewa, tapi berdo’a kepada Allah Swt.

Selain melalui budaya Walisongo juga menyebarkan Islam melalui dunia pendidikan.

Dengan mendirikan berbagai pesantren untuk pusat pendidikan Islam dan mengajarkan nilai-nilai Islam yang santun serta mengamalkannya. Jika santri sudah lulus dari pesantren, santri tersebut dapat mendirikan pesantren di daerahya masing-masing, sehingga Islam dapat berkembang secara lebih cepat.

Dapat kita tarik kesimpulan bahwa dalam berdakwah kita tidak boleh memaksa orang lain untuk mengikuti apa yang kita mau, tetapi kita harus mampu berlaku arif untuk mengajak kepada kebaikan atau ajaran Islam yang benar. Lalu kenapa praktik beragama Islam yang ada di Indonesia tidak sama dengan yang ada di Arab sebagai kelahiran Islam? Karena agama Islam dapat diamalkan dimana saja, dengan budaya apa saja yang tidak melanggar syariat. Sehingga Islam selalu kontekstual kapanpun dan dimanapun. Islam bukan Arab dan Arab tidak selalu Islam. Mari belajar berpikir jernih, sehingga bisa membedakan mana Islam dan mana budaya.

  • 1share
  • 0
  • 0
  • 1
Tags: budaya islamislam nusantarawayang
Previous Post

AL WAHAN

Next Post

Ah, Aku Memang Tak Pandai Membaca Kode

Ahmad Rouf

Ahmad Rouf

Nama: Ahmad Rouf Email: roufahmadindo@gmail.com - Staff Administrasi Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Jawa Tengah - Sekretaris Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kota Semarang - Pendamping kelompok Asmarandhana Program Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Inklusif Berbasis Kelompok Subsistence Bank Indonesia KPw Jawa Tengah - Dosen Universitas Wahid Hasyim Semarang

Related Posts

Ketika Pernikahan Tak Lagi Bisa Dipertahankan: Memahami Khulu’ dalam Islam
Artikel

Ketika Pernikahan Tak Lagi Bisa Dipertahankan: Memahami Khulu’ dalam Islam

Juni 9, 2026
Apakah Agama Hanya Ilusi? Membaca Kritik Sigmund Freud Terhadap Iman
Islam dan Sains

Apakah Agama Hanya Ilusi? Membaca Kritik Sigmund Freud Terhadap Iman

Maret 17, 2026
Tajul Arus: Terhalang dari Munajat
Akhlak

Tajul Arus: Bahaya Maksiat

Desember 18, 2025
Tajul Arus: Terhalang dari Munajat
Akhlak

Tajul Arus: Bekas Maksiat

Desember 18, 2025
Tajul Arus: Terhalang dari Munajat
Akhlak

Tajul Arus: Mudharat Maksiat

Desember 18, 2025
Please login to join discussion

Recommended

Nasrudin dan Kuda Sultan

Nasrudin dan Kuda Sultan

Juni 9, 2020
Tajul Arus: Terhalang dari Munajat

Tajul Arus: Bekas Maksiat

Desember 18, 2025

Don't miss it

SYI’AH
Pengetahuan Islam

SYI’AH

Juni 3, 2020
93 Tahun Mengabdi Untuk Bumi Pertiwi
Artikel

93 Tahun Mengabdi Untuk Bumi Pertiwi

Juni 3, 2020
Manusia dibangkitkan Kembali Melalui Tulang Ekor Setelah Mati
Islam dan Sains

Manusia dibangkitkan Kembali Melalui Tulang Ekor Setelah Mati

Juni 4, 2020
Wahyu Pertama
Pengetahuan Islam

Wahyu Pertama

Oktober 26, 2022
Kiriman Pembaca

TUNA NETRA MENGINSPIRASI

Oktober 22, 2018
Kajian Kontekstual Riba
Hukum

Kajian Kontekstual Riba

Juni 3, 2020

KawanIslam.com merupakan media remaja Islam Indonesia untuk..

Categories

  • Acara
  • Agama
  • Akhlak
  • Artikel
  • Berita
  • Cerpen
  • Forum Rohis
  • Hikmah & Muhasabah
  • Hukum
  • Islam dan Sains
  • Kirim ke kawanislam
  • Kiriman Pembaca
  • Kisah Inspiratif
  • Kolom Guru & Orang Tua
  • Konsultasi
  • Pengetahuan Islam
  • Psikologi
  • Qur'an & Hadits
  • Sejarah dan Budaya
  • Video
  • World

Browse by Tag

akhlak Amin Syukur cerpen cinta rasul Dakwah era digital demokrasi forum guru forum orang tua Haji hikmah hukum Ibnu Athaillah Indonesia Islam islam dan sains islam nusantara karakter anak kebahagiaan Literasi Man 2 Semarang maulid nabi Maulud muhasabah nafs NKRI NU pendidikan karakter renungan Rohis sains santriprogresif Sejarah sejarah islam sholat khusyu' sirah Nabawi solusi spiritualitas beragama sufi tafsir tafsir kontekstual Tajul Arus tasawuf tokoh sufi Toleransi Umrah

Recent News

Ketika Pernikahan Tak Lagi Bisa Dipertahankan: Memahami Khulu’ dalam Islam

Ketika Pernikahan Tak Lagi Bisa Dipertahankan: Memahami Khulu’ dalam Islam

Juni 9, 2026
Ketika Dosa Menjadi Kabut Iman: Pelajaran Berharga dari Kitab Tajul Arus

Ketika Dosa Menjadi Kabut Iman: Pelajaran Berharga dari Kitab Tajul Arus

Juni 8, 2026

© 2018 KawanIslam - Web Developer KawanIslam.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
AL WAHAN

Mengenal Islam Nusantara

 
Tinjauan Syariah dan Saintifik terhadap Perilaku Meminum Khamar
No Result
View All Result
  • Kiriman Pembaca
    • Kirim ke kawanislam
    • Berita
    • Kiriman Pembaca
    • Kolom Guru & Orang Tua
    • Forum Rohis
  • Kisah Inspiratif
    • Cerpen
    • Hikmah & Muhasabah
  • Konsultasi
    • Agama
    • Psikologi
  • Pengetahuan Islam
    • Akhlak
    • Hukum
    • Qur’an & Hadits
    • Sejarah dan Budaya
    • Islam dan Sains
    • Artikel
  • Pesantren Progresif Fathimah Al Amin
    • Profil Pesantren
  • Login

© 2018 KawanIslam - Web Developer KawanIslam.

 
Send this to a friend